Pantai Lariti, Punya Sunrise yang Juara. Kamu Harus Segera Liburan ke Bima!

Pantai Lariti merupakan salah satu destinasi impian para wisatawan, dan di sinilah sunrise terindah di hidup saya selama ini.

***

Entah apa yang membuat saya sangat antusias untuk menjelajahi Bima. Kota yang terletak di timur Pulau Sumbawa ini menyimpan begitu banyak destinasi wisata yang masih tersembunyi, surga bagi para traveler di dunia. Salah satunya Pantai Lariti ini.

Pantai Lariti terletak di Desa Soro, Kecamatan Lambu Sape. Pantai ini ga jauh dari Pelabuhan Sape yang terkenal di kalangan para traveler karena bisa menyebrang ke Labuan Bajo dan Sumba dengan jalur laut. Lalu, apa keunikan dari pantai ini?

Nah, kamu tau cerita tentang Nabi Musa yang dapat membelah laut menjadi dua bagian ketika dikejar tentara Firaun? Di Pantai Lariti kamu bisa melihat secara langsung “hasil” dari laut yang terbelah ini!

 

[Baca juga : Tanjung Pasir Pulau Moyo, Si Gersang Yang Memikat Hati Para Wisatawan]

 

Perjalanan Bima – Sape

Bersama Aghi, Ribka, Ardi, dan teman-teman asli dari Bima yaitu Dhenis dan Jun, kita akan menikmati sunrise di Pantai Lariti. Jam 4 pagi kita sudah berangkat dari kota Bima menggunakan motor, dan membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai di Pantai Lariti. Satu kesalahan besar dibuat selama perjalanan menuju bagian timur Sumbawa ini : kita menggunakan celana pendek! Alhasil selama di motor paha kita kedinginan, untung saya masih memakai jaket.

Suasana gelap serta suara ayam berkokok terdengar di beberapa tempat selama kita berjalan menuju Pantai Lariti. Ga ada penerangan sama sekali, kecuali saat motor melewati rumah warga yang notabene-nya masih ada lampu teras.

Matahari mulai menampakkan sinarnya, memberikan cahaya di langit yang semakin lama semakin cerah. Tampak bukit-bukit beserta pohon tak berdaun mengelilingi kita selama perjalanan. Lingkungan terlihat gersang, wajar kita sudah mulai mendekati daerah pantai.

 

“Saat perjalanan, matahari mulai menampakkan sinarnya”

 

Kerumunan nyamuk mengelilingi kita saat motor melewati sawah. Nyamuk-nyamuk ini memang selalu ada di pagi hari. Karena motor ngebut jadinya ga sampe menggigit saya, cuma banyak nyamuk mati menempel di helm dan jaket.


 

Sunrise di Puncak Bukit Pantai Lariti

Kita sampai di Pantai Lariti sekitar jam 6 pagi. Ga ada siapa-siapa kecuali kita berenam. Seharusnya kita membayar uang masuk pantai Rp 5.000,-/orang, tapi karena kita kepagian jadinya gak dipungut biaya. Yeay!

Sembari membersihkan nyamuk mati yang ada di helm dan jaket, saya menikmati pemandangan pantai yang sangat indah. Inilah laut yang “terbelah dua” di Pantai Lariti. Sebenarnya istilah “terbelah dua” dikarenakan pantai yang sedang surut dalam jumlah besar, serta pasir laut yang tinggi sampai menuju bukit Pantai Lariti. Selama berjalan menuju bukit, binatang laut seperti kerang dan kepiting terlihat di sekeliling pantai.

Jarak antara parkir motor sampai bukit Pantai Lariti tidaklah jauh, hanya membutuhkan waktu 10 menit trekking sampai ke puncak bukit. Sunrise sudah dapat dinikmati di puncak bukit Pantai Lariti. Inilah sunrise terbaik selama saya hidup di dunia ini. Dikelilingi laut dan bukit nan cantik, panorama ini sangat keren dan sayang untuk dilewatkan. Entah kenapa kali ini saya merasa adventurous banget! Hahahaha.

 

“Sunrise mulai muncul dari kejauhan”

 

“Begitu naik ke puncak bukit, view-nya sudah seperti ini. Keren!”

 

“Sunrise yang bulat penuh!”

 

“Sunrise terbaik sepanjang masa!”

 

Puas bermain bersama matahari terbit, saatnya menikmati Pantai Lariti. Aghi tampak sedang memperhatikan hewan semacam siput laut, sedangkan saya sibuk mencari kepiting untuk dimakan untuk difoto. Ada juga nelayan yang akan mencari ikan di sekitar laut Lariti. Di pantai ini juga ada ayunan bertuliskan “LARITI”, serta bendara merah-putih terpasang di tiang ayunan.

 

“Puas dengan sunrise, saatnya bermain di pantainya”

 

“Masih di bukit Pantai Lariti”

 

“Aghi dan Siput laut (?)”

 

“Ayunan di Pantai Lariti”

 

“Gersang menjadi ciri khas di pantai ini”

 

Entah kenapa panorama Pantai Lariti ini terlihat seperti di Flores. Puas menjelajahi Pantai Lariti, kita melanjutkan perjalanan ke Uma Lengge Wawo…

 

[Baca juga : Mengintip Uma Lengge Wawo, Rumah Adat Suku Bima yang Wajib Kamu Kunjungi]

 

Comments

  1. Pingback: Gunung Munara Rumpin, Menyuguhkan View Apik Kota Bogor dan Gampang Kamu Daki. Pas Buat Pendaki Pemula! - Heriand.com

    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *