Mengintip Uma Lengge Wawo, Rumah Adat Suku Bima yang Wajib Kamu Kunjungi

Budaya, tradisi, dan adat istiadat tidak pernah lepas dari tanah air Indonesia. Salah satunya rumah adat yang ada di Bima ini, bernama Uma Lengge Wawo. Uniknya, rumah tradisional ini digunakan untuk menyimpan bahan makanan. Lalu ada apa lagi?

***

Merencanakan perjalanan itu gak gampang. Kalo destinasinya ke pantai semua, pasti bakalan bosen. Makanya kita bikin itinerary juga ke rumah adat di Bima. Mumpung lagi jauh dari ibu kota nih, kita sempetin buat mengunjungi Uma Lengge Wawo, salah satu rumah adat suku Bima.

P.S.: Sebenernya kita pergi ke tempat ini mendadak banget, rencananya sore hari. Mengingat jarak kota Bima – Sape lumayan jauh jadinya kita majuin di pagi hari. Kalo kamu mau ke sini, pastikan pakai pakaian yang sopan ya. 🙂

 

[Baca juga : Pantai Lariti, Punya Sunrise yang Juara. Kamu Harus Segera Liburan ke Bima!]

 

Uma Lengge Wawo terletak di Desa Maria, Kecamatan Wawo, Bima. Selesai menikmati sunrise di Pantai Lariti, kita bergegas ke objek wisata ini. Perjalanan dari Pantai Lariti ke Uma Lengge Wawo gak jauh-jauh amat, cuma 1 jam kok. Mata saya dimanjakan dengan view perbukitan yang gersang beserta pepohonan yang tak berdaun, serasa lagi di Flores. Ah, saya gak boleh menyamakan Bima dengan Flores, toh masing-masing punya ciri khas sendiri.

Ada ketakutan kalo objek wisata Uma Lengge Wawo belum buka karena kita kepagian. Untungnya jam 07.30 pagi udah buka, yaa walaupun belum ada wisatawan lain mengunjungi objek wisata ini.


 

Uma Lengge Wawo, Warisan Masyarakat Agraris Suku Bima

Pintu masuk yang didekorasi dengan daun berwarna kecoklatan, serta spanduk “Situs Uma Lengge” di atasnya, menurut saya hal ini sudah menarik perhatian wisatawan. Di dalam situs ini terlihat penduduk lokal yang sedang menjemur gabah. Kalau kamu habis memegang gabah harus segera cuci tangan. Kata penduduk di sini, memegang gabah bisa menyebabkan kulit gatal-gatal.

Okeh, lanjut ke view Uma Lengge Wawo. Terdapat beberapa rumah berbentuk pondok dan di belakangnya ada rumah penduduk yang tersusun rapi. Rumah-rumah ini berada di atas dan dibangun dengan kayu, serta ada tangga untuk menuju pintu masuk rumah. Beberapa pintu rumah terlihat terkunci dengan gembok. Kata guide objek wisata ini memang ada beberapa rumah yang masih jadi tempat tinggal warga, ada juga yang tidak disinggahi lagi.

 

“Pintu masuk Uma Lengge Wawo”

 

“Berteduh di bawah rumah”

 

“Gabah yang sedang dijemur”

 

“Seperti ini view Uma Lengge Wawo di pagi hari”

 

Rumah berbentuk seperti pondok ini disebut Uma Lengge Wawo. Atap rumah ditutupi dengan alang-alang. Arti “uma” berarti rumah, “lengge” berarti lumbung, dan “wawo” berarti atas. Jika digabungkan menjadi rumah lumbung yang berada di atas. Kita sempatkan untuk naik ke atas rumah, melihat ada apa aja di dalam rumah itu. Oh ya, kalo lagi berhalangan jangan naik ke atas rumah ya.

Ukuran ruangan di dalam rumah sekitar 2 x 2 m. Bersama guide Uma Lengge Wawo, ia menjelaskan kalo yang disimpan di dalam rumah sebagian besar hasil panen, seperti padi, jagung, dan sebagainya. Ada juga topi jerami dan penutup kepala yang terbuat dari daun kering (saya lupa namanya apa) yang digunakan ketika di sawah atau mengambil hasil panen, agar terhindar dari terik matahari. Di Uma Lengge Wawo pun ada ikat kepala sambolo, salah satu ciri khas pakaian adat Bima yang biasa digunakan oleh kaum lelaki.

 

“Kalo lagi halangan, jangan ke atas rumah ya”

 

“Bahan makanan, serta penutup kepala”

 

“Bahan makanan yang disimpan di dalam rumah”

 

“Berfoto bersama guide, memakai penutup kepala dan ikan kepala sambolo”

 

Sejarah, Festival, dan Sikap Selama di Uma Lengge Wawo

Uma Lengge Wawo terdiri dari 3 lantai : lantai pertama untuk menyambut tamu dan kegiatan upacara adat, lantai kedua untuk tempat tidur sekaligus dapur, dan lantai ketiga untuk menyimpan bahan makanan. Seiring perubahan zaman, dimana masyarakat lebih memilih tinggal di rumah yang lebih luas, maka masyarakat yang tinggal di Uma Lengge Wawo semakin sedikit. Uma Lengge Wawo menjadi fungsi utama sebagai aset masyarakat Bima untuk menyimpan bahan makanan, jikalau nanti ada bencana alam.

Selama berada di situs Uma Lengge, kamu harus menjaga sikapmu, terutama bicaramu ya. Diceritakan oleh guide Uma Lengge Wawo, waktu itu ada wisatawan yang kecewa akan situs Uma Lengge. Leluhur pun marah dan merasuki tubuh wisatawan tersebut. Wisatawan itu kesurupan selama beberapa hari, dan akhirnya keluar dari tubuh wisatawan saat orang-orang meminta maaf dengan leluhur tersebut.

 

“View dari atas Uma Lengge Wawo”

 

“Berjalan menuju rumah penduduk”

 

“Bersantai sejenak, ngobrol sama guide Uma Lengge Wawo”

 

Nah, setiap tahunnya di bulan Agustus terdapat Festival Uma Lengge. Serangkaian acara seperti tarian-tarian adat, upacara adat, pesta panen, dan pertunjukan permainan rakyat diadakan selama festival berlangsung. Tidak lupa juga melakukan renovasi dan menjaga kebersihan Uma Lengge Wawo.

Puas berkeliling Uma Lengge Wawo, kita memberikan uang seikhlasnya, sebagai bentuk terima kasih karena bisa mengunjungi objek wisata yang sangat menarik di Bima ini.

***

Uma Lengge Wawo merupakan aset dan warisan leluhur suku Bima yang harus dijaga dan dilestarikan untuk para generasi yang akan datang. Kamu setuju? 🙂

Comments

  1. Pingback: Pantai Lariti, Punya Sunrise yang Juara. Kamu Harus Segera Liburan ke Bima! - Heriand.com

  2. Nasirullah Sitam

    Dulu pas di rumah masih panggung juga naruh stok makanan seperti jagung dan lainnya digantung di bagian atas dapur. Kalau di sini gabah yang digantung, kalau di Brebes yang digantung Brambang 😀

    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *