Filosofi Sopi : Minuman Tradisional Indonesia Timur Yang Berpotensi Mendunia

Bukan nama obat nyamuk atau pengusir nyamuk ya.

***

Jarang-jarang saya menulis artikel tentang kuliner maupun sesuatu yang khas dari tanah air Indonesia. Tapi yang satu ini saya sangat tertarik untuk dibuatkan artikel khusus, membahas tentang salah satu minuman yang ada di Indonesia Timur.

Nah, sebelum kamu membaca secara lengkap artikel ini, kamu harus tau kalo rating umurnya 17++ ya, karena cuma orang dewasa yang boleh menikmati minuman tradisional Indonesia Timur yang satu ini.

 

Kamu tau sopi? Atau jangan-jangan pernah mencicipinya…?

Sopi merupakan minuman beralkohol dari pohon lontar. Nama sopi sendiri berasal dari bahasa Belanda, yaitu Zoopje yang artinya “alkohol cair”. Pohon lontar sendiri banyak ditemukan di wilayah Indonesia Timur, terutama di daerah Nusa Tenggara Timur. Konon pada jaman dahulu daun lontar digunakan buat menulis kitab.

Seluruh bagian dari pohon lontar bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Daun lontar bisa dijadikan wadah seperti mangkok, piring, ember, maupun topi bernama Tii’langga, atau juga bisa dijadikan alat musik seperti sasando. Buah lontar berkulit keras, berwarna hijau tua, daging buahnya lunak kenyal dan berwarna putih bening, serta bisa dimakan dan rasanya manis, semanis penulisnya. Huek.

“Pohon lontar.” (source : Google)
“Pohon lontar dengan buahnya.” (source : Google)

Nektar bunga lontar pun bisa dijadikan bahan untuk membuat berbagai jenis minuman, seperti sopi ini. Sedangkan getah lontar bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka gores dan luka hati yang mendalam. *mikir keras*

Ada berbagai macam cara membuat sopi, dengan penyulingan maupun cara tradisional, tergantung sopi tersebut dibuat dari daerah mana. Seperti di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, sopi terbuat dari nektar bunga lontar dengan penjelasan seperti di bawah ini :

  1. Bunga lontar diambil nektarnya. Nektar lontar yang baru diambil disebut tuak.
  2. Tuak dimasak hingga kental menjadi gula air.
  3. Gula air difermentasikan dengan ragi yang dibawa oleh akar pohon raru. Raru ini mengandung sedikit alkohol dan bersoda.
  4. Raru di-destilasi (disuling) untuk menghasilkan embun sopi. Nah, sopi inilah yang biasa mengandung alkohol di atas 30%. Semakin bening airnya, maka semakin tinggi kadar alkohol di dalam sopi tersebut. Butuh beberapa kali penyulingan untuk menghasilkan sopi dengan kadar alkohol tinggi.

 

“Buah lontar yang rasanya manis.” (source : Google)

Walaupun keberadaannya ilegal, sopi tetap banyak digemari untuk memutar roda perekonomian rakyat di pedalaman. Selain dapat dinikmati saat lagi kumpul-kumpul, sopi juga dapat digunakan untuk menyambut kedatangan tamu atau kegiatan resmi, seperti di Maluku yang hampir semua upacara adatnya ditemukan sopi.

 

Lalu, bagaimana rasa sopi sendiri?

Nah, saya sendiri sudah pernah mencicipi sopi saat ngetrip ke Pulau Moyo. Lebih tepatnya saat camping di Pantai Brang Sedo, dimana kita semua ingin mendapatkan momen keseruan tersendiri selama camping di pantai ini.

Setelah kita selesai makan malam, Doni mengambil 1 botol sopi buat diminum selama kita camping kali ini. Awalnya saya ragu-ragu buat minum minuman seperti ini, cuma hal ini terpatahkan akan rasa penasaran saya untuk mencicipi minuman khas Indonesia Timur ini. Tertera merk Erath dengan alkohol 40% di botol sopi.

“Suasana camping di Pantai Brang Sedo”
“Tebak mana sopi-nya?”

Doni mulai mengeluarkan 1 gelas kecil dan minuman Florida rasa jeruk untuk dicampur bersama sopi, agar rasa sopi tidak terlalu kuat. Karena cuma punya 1 gelas jadinya kita bergantian minum sopi. Nah, yang ikut minum sopi hanya saya, Aghi, Ribka, Doni, dan Jhek sang awak kapal. Ardi ga ikut minum biar bisa menjaga kita kalau-kalau kita teler.

Setelah saya coba, ternyata rasa sopi seperti rasa tape, tapi dengan rasa yang lebih kuat. Efek mabuk nan puyeng dari minuman ini juga lumayan cepat layaknya tequila, padahal kita cuma minum sedikit-sedikit.

Saat satu botol sopi udah habis, kita ga bisa melanjutkan acara ini lagi karena Doni hanya membawa 1 botol saja. Gara-gara udah mulai pada teler, Doni kena omelan dari semuanya.

“Yaaah Doni kok cuma bawa satu botol aja? Ah payah! Ga asik lu Don!”

Doni cuma ketawa-ketawa dan berusaha menghindari kita dengan masuk ke dalam tenda. Sampai jam 10 malam pun kita udah makin teler. Cuaca udah semakin dingin, kita membereskan gelas dan tikar kemudian masuk ke tenda. Saya dan Ribka pun masih ketawa-ketawa di dalam tenda. Ga beberapa lama kemudian kita berdua langsung, blegh!… tidur…

***

Masih banyak produk lokal yang punya potensi go internesyenel. Jadi, produk apa lagi yang ada di daerahmu? 🙂

 

Baca juga artikel trip #ExploreSumbawa lainnya.

  1. Camping Bersama Ular Di Pulau Kenawa
  2. Pulau Paserang, Temannya Kenawa Yang Dilirik Raja Qatar
  3. Serunya Main Di Air Terjun Mata Jitu Pulau Moyo, Sampai Kita ‘Diganggu’ Loh!
  4. Tanjung Pasir Pulau Moyo, Si Gersang Yang Memikat Hati Para Wisatawan

Comments

    1. Post
      Author
  1. Halim Santoso

    Jadi penasaran gimana rasa Sopi, apalagi ditambah minuman Florida rasa jeruk hehehe. Di Solo ada nih minuman keras yang terkenal juga, namanya Ciu, dari fermentasi tebu. Entah rasanya lebih asyik yang mana. 😛

    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *