Serunya Main Di Air Terjun Mata Jitu Pulau Moyo, Sampai Kita ‘Diganggu’ Loh!

Ini bukan cerita horror kok, lebih horror jadi jomblo di tahun baru.

***

*kriiiiiinnnnngggggggg!!!*

Suara alarm ponsel dan nada dering alarm lainnya saling bersautan tepat jam 4 pagi. Kita semua memang memasang alarm di jam yang sama, cuma ya belum ada yang bangun. Saya yang paling gampang bangun akhirnya ngalah dan mematikan alarm di semua ponsel, kemudian membangunkan Aghi, Ribka, dan Ardi. Walau cuaca masih terasa dingin, kita bergegas cuci muka dan sikat gigi, kemudian merapikan ruang tamu yang udah kita jadikan tempat tidur. Pak Jahar dan istrinya, serta cucunya ternyata udah menunggu kita di depan rumah. Mungkin mereka kebangun gara-gara suara kita beres-beres.

Jam 5 pagi kita mulai meninggalkan rumah Pak Jahar. Pak Jahar serta cucunya mengantarkan kita sampai halte bus. Jalanan yang gelap membuat saya kesulitan melihat ke depan, untungnya Pak Jahar punya senter yang akan menyinari hidup kita. Halah. Jalan kaki dengan membawa 14 kg ransel di pagi hari membuat saya terengah-engah selama berjalan ke halte bus. Ketauan kan kalo kurang olah raga.

 

Menuju Sumbawa Besar

Hari sudah semakin terang, tetapi bus belum juga keliatan. Bus yang bakalan kita naiki tujuannya ke Taliwang, tetapi kita akan turun di Kodim Labuan Badas, Sumbawa Besar. Saking lamanya, akhirnya kita memutuskan hitchhiking atau nebeng di kendaraan apa aja, yang penting bisa sampe tujuan aja lah. Aghi dan Ribka berusaha memberhentikan mobil dan truk biar bisa ditebengin, sedangkan saya dan Ardi cuma ketawa-ketawa di balik layar. Memang ada mobil dan truk yang berhenti, cuma sayangnya bukan ke arah Taliwang.

Jam 06.30 akhirnya bus arah Taliwang muncul juga! Kita bergegas naik bus ini sambil membawa ransel yang super berat. Perjalanan ke arah Sumbawa Besar cukup menyenangkan. Dengan melewati Jalan Lintas Sumbawa, saya bisa menikmati view pantai beserta pedesaan dan sawah. Hiruk-pikuk penduduk lokal sangat terasa, baik dari dalam bus dimana orang-orang mulai memenuhi bus, maupun di jalanan karena bus melewati pasar.

“Mencoba hitchhiking bersama Aghi dan Ribka”
“Keadaan bus arah Taliwang dengan AC di dalamnya”

Saya duduk di samping Ardi yang tengah sibuk edit video, sedangkan saya juga sibuk edit video hitchhiking Ribka dan Aghi yang saya rekam tadi pagi. Kernet bus mulai menagih ongkos sebesar Rp 30.000,-/orang karena kursi bus sudah penuh. Secara kasat mata, kebanyakan orang di dalam bus membawa buah dan sayuran untuk dijual lagi di Taliwang. Ada juga yang ingin mengunjungi kampung mereka di sana.

Sekitar jam 08.30 kita tiba di Kodim Labuan Badas. Daniel Doni, atau kita panggil Doni, udah nungguin kita di gapura dekat Kodim. Dia yang akan mengantarkan kita menjelajahi Pulau Moyo. Sambil berjalan menuju Labuan Badas, Doni bercerita kalau dulunya dia pernah kerja di perkapalan dan sering keliling Indonesia timur, termasuk Raja Ampat dan Flores. Tapi sekarang ia dan teman-temannya membuat trip explore Pulau Moyo. Yang mau ke Pulau Moyo bisa kontak di Instagram @pulau_moyo ya!

Labuan Badas merupakan pelabuhan untuk menyeberang ke Pulau Moyo. Keadaan pelabuhan ini lumayan sepi. Mungkin karena hari kerja dan sedang bukan musim libur. Tanpa basa-basi, kita langsung naik kapal menuju desa di Labuan Aji, Pulau Moyo.

“Menuju Pulau Moyo”

Aaaaah, saya sangat excited akhirnya ke Pulau Moyo lagi. Pas sailing Labuan Bajo-Lombok tahun lalu, kita hanya mengunjungi Pulau Moyo untuk sekedar mandi dan cuci pakaian. Itu pun bukan Air Terjun Mata Jitu yang terkenal banget sampai mancanegara. Perjalanan menuju Pulau Moyo kurang lebih 2 jam. Saat di kapal, Doni mengingatkan kalau :

  1. Gak boleh membuang sampah sembarangan.
  2. Mencuci pakaian menggunakan sabun.
  3. Memakai sesuatu yang mengandung bahan kimia.
  4. Berbicara kurang sopan saat di air terjunnya.

 

Air terjun di Pulau Moyo sangat dijaga kelestariannya, dan pengelola tidak mau airnya tercampur dengan bahan kimia karena air ini menjadi sumber air untuk penduduk lokal. Saya jadi serba salah karena tahun lalu mencuci pakaian di Pulau Moyo pakai sabun colek. Jangan ditiru ya!

Jam 10 kita sudah sampai di Labuan Aji, Pulau Moyo. Doni bilang kalo kita bakalan trekking selama 1,5 jam untuk sampai di Air Terjun Mata Jitu. Bersama Doni dan awak kapal Jhek, kita siap trekking menuju Air Terjun Mata Jitu. Sebelum jalan ke air terjunnya, kita harus membayar tiket masuk Rp 20.000,-/orang. Sempat ada yang menawarkan jasa ojek sampai ke air terjun seharga Rp 50.000,- dengan perjalanan hanya 20 menit, tapi yaelah kita ga berminat sama sekali karena terlalu gampang. Sebenernya memang bawa duit pas-pasan sih, hahahaha.

“Jadi kamu mau ke arah mana?”

 

Perjalanan Ke Air Terjun Mata Jitu

Siang hari yang sangat terik kita dapatkan selama menuju air terjun ini, yang ditempuh sekitar 7 km dari Labuan Aji. Jalanan ada yang sudah diaspal dan ada yang masih tanah, dan trekking kebanyakan menanjak. Walaupun bikin kaki pegel-pegel, tapi keadaan alamnya berasa banget masih alami. Pohon-pohon yang mengering dan kebun milik penduduk lokal sempat kita lewati. Ada juga sapi ternak yang lagi ngadem sambil makan rumput.

“Walau cuaca panas, kita tetap trekking dengan semangat”
“Siapa yang gak suka akan view trekking seperti ini?”

Sekitar jam 11.30 siang kita mulai trekking menuruni bukit. Terdapat papan bertuliskan “Welcome to Mata Jitu, 150 m menuju surgah kecil” dan saya langsung kegirangan. Eits, jangan salah dulu, tempatnya udah hutan loh, dan turunan juga agak curam. Daun-daun berwarna kecoklatan ada di sepanjang jalan dan saya agak parno takutnya tiba-tiba ada ular.

Selesai menuruni bukit, suara derasnya air mulai terdengar dan saya udah gak sabar sampai di air terjun. Cuaca mulai terasa adem karena matahari udah ditutupi pepohonan yang menjulang tinggi, serta ada rawa-rawa yang airnya bening.

Gak beberapa lama kemudian, kita sampai di Air Terjun Mata Jitu. Terlihat derasnya air terjun serta jacuzzi alami, dengan view hijaunya hutan Pulau Moyo. Ya, jacuzzi ini benar-benar alami yang terbentuk dari batu kapur yang besar. Saking besarnya debit air dari air terjun, maka bisa menghancurkan batu kapur ini dan membentuk cekungan layaknya jacuzzi. Airnya pun bening dan berwarna hijau. Kalau diminum sebenernya gapapa, cuma jangan kebanyakan karena air ini mengandung kapur. Inilah air terjun TERBAIK yang pernah saya kunjungi!

“Palang yang dinanti-nantikan”
“Apalagi palang ini!”
“Rawa-rawa bening selama trekking. Sempat kita temukan biawak besar”
“Berjalan di tengah hutan”
“Air Terjun Mata Jitu yang sangat dinanti-nantikan”
“Nyemplung yuk, neng!”

Air Terjun Mata Jitu mempunyai 4 undak dan 7 kolam. Arti “mata jitu” sendiri yaitu mata air yang jatuhnya tepat mengenai kolam di bawahnya. Air terjun ini terbentuk dari ribuan tahun yang lalu, dapat dilihat dari batuan stalagmit di air terjun. Air Terjun Mata Jitu mulai dikenal publik pada tahun 1993 seiring dengan dibukanya Amanwana Resort.

Tidak banyak yang kita lakukan di Air Terjun Mata Jitu. Berfoto dan berendam di jacuzzi alami merupakan hal yang wajib saat berada di air terjun ini. Well, sempat ada konflik adu mulut antara saya dan Aghi karena masalah angle foto yang kurang sesuai. Tetapi semuanya lewat begitu saja, harus ingat kan kalau kita lagi jalan-jalan dan harus menjaga perasaan satu sama lain?

Di sebelah air terjun terdapat gua kecil di atas air. Kalo di film-film mungkin buat bertapa kali ya, tapi kalo kata Doni jangan mendekati gua itu. Dulu ada cewek berfoto di gua tersebut dan pas dilihat hasil fotonya ternyata ada tangan hantu. Cerita-cerita horror yang kayak gini nih yang langsung bikin merinding, soalnya dulu saya pernah diganggu di air terjun sampai jatuh di air terjunnya. Alhasil saya hanya diam seribu bahasa dan menjauhi gua itu. Ribka dan Aghi ga percaya dengan hal-hal kayak gitu, dan bilang, “Ah masa’ sih, yaudah kita foto deket gua itu aja, tapi view-nya air terjun ya”.

 

‘Diganggu’ Di Lady Diana’s Pond

Puas dengan kesegaran Air Terjun Mata Jitu, selanjutnya kita trekking menuju Lady Diana’s Pond atau Kolam Lady Diana. Tertarik banget kan begitu mendengar namanya? Perjalanan hanya ditempuh sekitar 15 menit melewati hutan. Saat di perjalanan, kita menemukan ayunan yang terbuat dari ranting pohon yang besar dan kokoh. Inilah hal lain yang menarik dari Pulau Moyo. Mungkin dulunya pernah ada tarzan kali ya…?

Lady Diana’s Pond sebenarnya hanya kolam kecil nan alami dan terdapat air terjun mini, dulunya Lady Diana sempat mengunjungi tempat ini di tahun 1993. Hal yang menarik yaitu ada batu kapur yang bisa dijadikan perosotan menuju kolam.

“Ayunan yang terbuat dari ranting pohon, biar serasa Tarzan”
“Peri-peri air terjun (?)”
“Siap main perosotan alami?”

Awalnya kita ragu-ragu karena takut kolamnya dalam atau ada binatang liar di dalam air, untuk itu kita menyuruh Jhek masuk ke kolam dulu. Lah kalo si Jhek dipatok ular atau digigit buaya, siapa yang nanti jadi nahkoda kapal? Untung aja pas Jhek di dalam kolam itu ga terjadi yang aneh-aneh. Kita berempat pun langsung mencoba perosotan alami tersebut… dan ternyata keenakan! Saking keenakannya sampe celana renang Aghi robek gara-gara celananya terseret di perosotan!! Hahahaha. Ardi yang iseng banget pun langsung merekam momen-momen seru ini.

Di sinilah keanehan terjadi. Begitu Ardi naik dari kolam dan mengecek hasil rekamannya, tiba-tiba semua file di kamera GoPro-nya hilang! Ardi, yang dari awal udah men-setting vlog-nya pengen seperti apa, terlihat sangat stress gara-gara GoPro-nya tak menyisakan 1 file pun. Ia juga sempat mengganti memory card dengan yang cadangan, tetapi hasilnya sama saja : saat tes foto memakai memory card cadangan, tetep ga ada 1 file pun. Ga beberapa lama kemudian kita langsung menyudahi berenang di kolam, toh juga udah jam 3 sore. Sambil berjalan ke arah pulang, kita menanyakan tentang hal ini ke Doni dan awak kapal.

“Nah, tadi di Mata Jitu atau di Lady Diana’s Pond kalian ada salah ngomong gak?”

“Apa ya? Gara-gara kita salah ngomong? Atau ngomong jorok?” kata Aghi.

“Iya pasti itu… Nah, kira-kira apa ya?” tanya Doni.

Kita bingung mau jawab apa. Apa karena saya adu mulut dengan Aghi? Atau kita yang berisik saat di Mata Jitu?

“Nyerah? Jadi gini… Tadi kan kalian gak percaya kalo ada ‘sesuatu’ di dalem goa Mata Jitu itu. Mungkin ada yang gak seneng, trus mungkin ngikutin kita sampe Lady Diana’s Pond.” jawab Doni. Kita pun hanya mengangguk sambil jalan melewati hutan menuju Labuan Aji.

“Kalian tau gak kalo kita jalan lurus terus dari Lady Diana’s Pond tadi, itu sebenernya ada kuburan?” tambah Doni. Konon kuburan tersebut sudah berpuluh-puluh tahun lamanya.

Sebenernya hal-hal yang kayak gini antara percaya gak percaya. Pas saya tanya Ardi sudah berapa lama memory card-nya, dia jawab baru setahunan. Apakah memang lagi sial tiba-tiba memory card rusak semua? Atau memang kita lagi diganggu? Positive thinking aja, mungkin lagi sial memory card tiba-tiba rusak, dan lain kali kita perlu menjaga omongan kita selama perjalanan. Saya pun langsung bilang ke Ardi untuk menggunakan kamera GoPro milik saya saja.

Sampai di Labuan Aji, kita mencuci kaki dengan air laut, kemudian naik kapal menuju Pantai Brang Sedo untuk kemping di sana…

***

Baca juga artikel trip #ExploreSumbawa lainnya.

  1. Camping Bersama Ular Di Pulau Kenawa
  2. Pulau Paserang, Temannya Kenawa Yang Dilirik Raja Qatar
  3. Filosofi Sopi : Minuman Tradisional Indonesia Timur Yang Berpotensi Mendunia
  4. Tanjung Pasir Pulau Moyo, Si Gersang Yang Memikat Hati Para Wisatawan

Comments

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *