Camping Bersama Ular Di Pulau Kenawa

Kalau kamu melihat ular bercorak hitam-putih mendekatimu, apa yang akan pertama kali kamu lakukan?

***

Sumbawa, salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Barat yang sangat ingin saya kunjungi. Berbeda dengan Lombok, Pulau Sumbawa lebih luas dari yang saya bayangkan, yaitu 14,386 km2 dengan titik tertinggi yaitu 2,824 m pada Gunung Tambora.

Nah, kali ini saya mengunjungi Pulau Kenawa yang gak kalah hits-nya dari pulau-pulau yang ada di Lombok. Nama Kenawa diambil dari nama pohon yang dulunya merupakan satu-satunya pohon yang tumbuh di pulau tersebut.

Pulau Kenawa terletak di Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat. Menurut penduduk lokal, Poto Tano sendiri artinya tanah ujung, yang memang kecamatan ini berada di pesisir pantai paling ujung di Sumbawa Barat. Tidak hanya Pulau Kenawa, terdapat beberapa pulau lain sekitar perairan Selat Alas (selat yang memisahkan antara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa) seperti Pulau Paserang, Pulau Kambing, Pulau Kalong, Pulau Namo, dan masih banyak lagi.

“Pulau Lombok dan Pulau Kenawa yang berjarak dekat”

Cukup mudah untuk mencapai Pulau Kenawa. Jika kamu melakukan perjalanan dari Lombok, maka kamu harus pergi ke Pelabuhan Kayangan yang berada di Lombok Timur. Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam, kemudian dilanjutkan perjalanan laut menggunakan kapal ferry. Harga tiket kapal penyebrangan Lombok-Sumbawa Rp 18.000,-/orang dengan perjalanan hanya 1 jam, sertaย  kapal tersedia setiap 15 menit.

Bersama Ribka, Aghi, dan Ardi, kita melakukan perjalanan di malam hari. Keadaan kapal ferry sangat ramai, jauh dari ekspektasi saya yang sebelumnya pernah ke Sumbawa di siang hari dan keadaan kapal cukup sepi. Jam 10 malam kita tiba di Pelabuhan Poto Tano, dilanjutkan dengan berjalan kaki sampai ke rumah Pak Jahar. Beliau yang akan mengantarkan kita ke Pulau Kenawa keesokan harinya.

“Berfoto sebelum naik ferry”
“Fiercest weapon : ekor ikan pari”

Selama berada di rumah Pak Jahar, ada satu benda yang sangat menarik perhatian saya : ekor ikan pari dengan panjang sekitar 1 meter. Ekor ikan pari ini digantung dengan batu sebagai pemberat agar ekor tetap lurus. Saat masih hidup, ikan pari yang digancu langsung dipotong ekornya karena ekor ini sangat beracun, terutama pada bagian ujung ekor. Saya merinding sekaligus penasaran dengan ekor ikan pari yang sedang dikeringkan ini. Bahkan jika tangan kita terluka saat memegang ekor ikan pari, racun ekor tetap masuk ke dalam tubuh kita.

Lalu, apa fungsi ekor ikan pari ini? Ekor ini akan digunakan sebagai cambuk terutama saat ada maling atau orang jahat. Best weapon Iโ€™ve ever seen so far!

Dari Pelabuhan Poto Tano, kita berangkat menuju Pulau Kenawa jam 8 pagi dan perjalanan ditempuh hanya 15 menit. Keindahan Pulau Kenawa sudah tampak dari tepi pantai, dengan padang savanna berwarna kecoklatan serta bukit yang berdiri dengan megahnya. Pasir putih menjadikan pulau ini semakin cantik. Beberapa warung dan saung tampak dari dermaga pulau ini. Wah, ga bakalan kesulitan cari makan di Pulau Kenawa!

Kita menyempatkan diri untuk berkeliling Pulau Kenawa terlebih dahulu sebelum mendirikan tenda. Terdapat beberapa rumah botol dekat dengan bukit ikonik Pulau Kenawa. Ya, rumah botol ini benar-benar dibuat dari botol sebagai dinding. Sayangnya rumah-rumah ini masih dalam tahap pembangunan sehingga kita tidak bisa masuk ke dalam rumah.

Ada juga jembatan dengan dikelilingi burung camar, menjadikan spot foto terfavorit saya. Jika ditelusuri lagi, jembatan ini mempunyai anak tangga ke bawah agar bisa snorkeling di sekitar jembatan.

“Perjalanan menuju Pulau Kenawa”
“Warung-warung sudah tampak di Pulau Kenawa”
“Bukit di Pulau Kenawa yang sangat ikonik”
“Rumah botol yang konon dibangun oleh warga asing”
“Rumah botol tampak dari dekat”
“Keindahan Pulau Kenawa yang tak terlupakan…”
“Spot foto favorit”

Cukup puas berkeliling pulau, kita lanjutkan dengan mendirikan tenda. Angin musim pada bulan Oktober benar-benar membuat kita tidak nyaman. Kita sangat kesulitan mendirikan tenda, bahkan pada siang hari pun angin terasa begitu kencang. Awalnya kita mendirikan tenda di saung yang cukup luas, tetapi akhirnya tenda didirikan di sebelah pondok agar dapat terhindar dari hembusan angin kencang.

Selesai mendirikan tenda, kita lanjutkan dengan snorkeling di pinggir pantai. Lingkungan bawah laut terasa begitu alami. Beberapa terumbu karang nan indah ada di beberapa spot yang tidak begitu jauh dari tepi pantai, menjadikan tempat yang pas untuk snorkeling bahkan untuk yang tidak bisa berenang sekalipun.

Saat snorkeling, kita melihat kapal nelayan yang sedang menangkap ikan teri menggunakan jaring. Saya dan Aghi pun langsung mendekati kapal nelayan tersebut. Setelah mendapat izin dari nelayan, kita langsung mengambil beberapa ikan teri yang sedang terperangkap di jaring untuk kemudian kita masak. Pengalaman pertama saya menjadi seorang nelayan! ๐Ÿ™‚

“Sangat sulit mendirikan tenda agar terhindar dari serangan ular. Yang ada malah diserang angin kencang”
“Alhasil mendirikan tenda di samping pondok, agar terhindar dari angin kencang”
“Memasak makan siang bersama Chef Aghi ๐Ÿ™‚ “
“Sambal setan menjadi favorit selama trip ini!”

Anyway, ini pengalaman pertama saya camping di pantai. Berbeda dengan camping yang pernah saya lakukan sebelumnya, camping di pantai terasa prestisius. Cuaca di malam hari tidak sedingin di dataran tinggi. Perbedaan signifikan terletak pada โ€œtidak-mandiโ€-nya. Kalo di dataran tinggi, itโ€™s okay kita tidak mandi karena cuaca sudah dingin dan rasanya gak mandi sehari pun masih baik-baik aja. Berbeda kalo di pantai, apalagi saya yang habis snorkeling yang notabene-nya kena air laut, badan terasa lengket dan gatal. Tetapi secara keseluruhan camping di pantai sangat menyenangkan. Mendengar suara deruan ombak di malam hari terasa begitu menenangkan. Mungkin memang dari kecil saya sangat menyukai pantai. Hahahaha.

Lalu, di manakah ular di Pulau Kenawa?

Semakin berkembangnya Pulau Kenawa, serta jumlah wisatawan yang semakin meningkat, maka ular-ular di Pulau Kenawa sudah jarang sekali kelihatan. Konon jenis ular yang ada di Pulau Kenawa merupakan ular hitam-putih yang paling mematikan nomor 2 di dunia. Ular ini bisa naik ke darat pada malam hari. Saung-saung yang ada di pulau ini dimaksudkan agar terhindar dari serangan ular. But thank God selama saya di Pulau Kenawa tidak menemukan ular sama sekali, hanya ada spekulasi bangkai ular di dekat saung.

“Kira-kira ini ular bukan ya?”

Keesokan paginya, kita menaiki puncak bukit Pulau Kenawa untuk menikmati sunrise. Saya sempat kesulitan trekking menuju puncak mengingat jalanan berpasir serta bukit yang curam. Walaupun matahari tertutup awan, lanskap dari atas bukit tetap terlihat indah.

Satu hal yang saya tidak suka saat berada di puncak bukit : ada tulisan-tulisan yang tidak penting mengotori bebatuan bukit. Walaupun tidak terlalu kelihatan, tetapi secara kasat mata ini sangat mengganggu pandangan saya dan wisatawan lainnya. Alangkah baiknya jika menjaga kelestarian alam daripada merusaknya begitu saja. ๐Ÿ™‚

“Sunrise di puncak bukit Pulau Kenawa”
“Jangan sampai seperti ini ya, benar-benar merusak alam”

Matahari sudah semakin terik, dan kita siap meninggalkan Pulau Kenawa untuk menuju Pulau Paserangโ€ฆ

***

Baca juga artikel trip #ExploreSumbawa lainnya.

  1. Pulau Paserang, Temannya Kenawa Yang Dilirik Raja Qatar
  2. Serunya Main Di Air Terjun Mata Jitu Pulau Moyo, Sampai Kita โ€˜Digangguโ€™ Loh!
  3. Filosofi Sopi : Minuman Tradisional Indonesia Timur Yang Berpotensi Mendunia
  4. Tanjung Pasir Pulau Moyo, Si Gersang Yang Memikat Hati Para Wisatawan

Comments

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  1. BaRT

    Udah lama pengen ke Kenawa, tapi begitu dengar kalimat ‘serangan ular’ -meskipun jarang- rasanya tetap aja merinding. Paling geli sama ular, terutama sejak kejadian ‘dipaksa’ motong kobra yang masuk ke rumah. Duh ,,, bayanginnya aja merinding.

    Tapi tetap sih, Kenawa ini menarik di mataku. O iya, untuk campingnya perlu ijin dan bayar tertentu gak? Dan di pulau ini, sama sekali gak ada sumber air tawarnya ya? Benar juga sih kalau habis mandi air laut, dan gak mandi itu rasanya gatel dan lengket. Bahkan kadang garam juga muncul di badan, setelah airnya menguap.

    1. Post
      Author
      Heri Andiyani

      Harus banget ke Kenawa bro, banyak tempat yang bisa dijelajahi di pulau ini. ๐Ÿ™‚
      Camping gak perlu bayar kok, tinggal bilang aja sama penduduk sekitar kalo bakalan ada yang camping di Kenawa.
      Air tawar memang sulit ditemukan. Waktu itu saya udah dibawain air galon dari pemilik sewa kapal karena mereka tau kita bakalan camping.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *