Wae Rebo : Backpacking Menuju Desa Bahari Flores

Bukan, ini bukan cerita menikmati keindahan alam hanya dengan berfoto di Wae Rebo. Ini cerita pengalaman saya menuju desa bahari di Flores, tanpa pemandu wisata.

Wae Rebo merupakan sisa terakhir peninggalan arsitektur budaya Manggarai yang terancam ditinggalkan. Desa ini terletak di tengah hutan dan pada ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut, menjadikan Wae Rebo layaknya surga di atas awan. Wae Rebo telah mendapatkan penghargaan tertinggi kategori konservasi warisan budaya dari UNESCO Asia-Pasifik tahun 2012 dan menjadi salah satu kandidat peraih Penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur tahun 2013. [source: wikipedia]

Belum ke Flores namanya kalo belum ke Wae Rebo. Itu yang selalu ada di pikiran saya. Datang jauh-jauh dari Jakarta, saya bertekad untuk mengunjungi Desa Wae Rebo di Flores yang konon merupakan desa terindah di Indonesia.

“Wae Rebo, Flores”

Menuju Desa Wae Rebo sebenarnya tidak gampang. Jika kamu lihat di peta, maka kamu akan terkejut akan jaraknya yang dekat dengan garis pantai dan jauh dari Labuan Bajo maupun Kupang. Saking jauhnya, kebanyakan wisatawan ambil trip ke Wae Rebo dengan naik mobil.

Saya bersama Aghi, Ribka, Iko, dan Fariz melakukan perjalanan ke Wae Rebo tanpa pemandu wisata. Informasi yang kita dapatkan sebenarnya sangat minim. Dengan tekad yang kuat untuk menjelajahi Flores, akhirnya kita berangkat menuju desa bahari tersebut.

Β 

Persiapan

Untuk persiapan sebenarnya tidak terlalu matang. Kita hanya mengandalkan jaket, HP, dan motor. Motor disewa selama 2 hari @ Rp 80.000,-. Jaket dibutuhkan karena udara di sana dingin. Kita juga hanya mengandalkan GPS sebagai penunjuk jalan menuju Wae Rebo. Tujuan kita adalah Kampung Dintor yang merupakan kampung terdekat sebelum trekking ke Wae Rebo.

 

Day 1 – Pantai dan gunung dalam satu perjalanan

Perjalanan 5 jam 28 menit hanya estimasi waktu menuju Wae Rebo Lodge di Kampung Dintor. Belum lagi kita harus mencari jalan yang benar agar tidak tersesat. Dengan hanya mengandalkan GPS, saya dan Iko berangkat menggunakan motor jam 10.30 siang. Sedangkan Aghi dan Fariz masih menunggu Ribka yang baru tiba di Labuan Bajo sore nanti.

Saya tidak tahu jalan mana yang saya lewati, hanya mengikuti GPS di HP saya. Setelah 2 jam perjalanan yang terik dan panas, kita mulai diarahkan ke bukit. Entah itu bukit atau gunung, yang pasti cuaca berubah drastis menjadi dingin. Masih banyak penduduk yang tinggal di daerah tersebut.

“Pelangi di perjalanan menuju Wae Rebo”

Sayangnya hujan turun sangat deras saat kita sedang berada di puncak. Saya dan Iko langsung mencari tempat teduh. Setelah sekitar 20 menit kita melanjutkan perjalanan. Beruntungnya, kita melihat view pelangi dekat dengan sawah, menjadikan perjalanan lebih menyenangkan.

Saya dan Iko sempat ragu-ragu apakah jalan yang kita lewati benar atau salah. Kita benar-benar masuk hutan dan jalanan masih berbatu. Perjalanan menuruni bukit sangatlah panjang. Ga kebayang kalo naik mobil rasanya seperti apa, melihat jalanannya masih berbatu. Kita juga sempat menanyakan jalan ke Wae Rebo ke penduduk sekitar, dan untungnya jalan yang dilewati udah benar.

“Selfie sedikit setelah hujan”

3 jam perjalanan melewati bukit sangatlah melelahkan. Setelah bukit, kita melanjutkan perjalanan melewati tepi pantai. Hari sudah semakin sore, dan Iko semakin ngebut agar tidak tiba di malam hari. Dan akhirnya kita tiba di Kampung Dintor sekitar jam 05.30 sore. Horeeeeeee!!!

Keadaan Kampung Dintor cukup ramai oleh para wisatawan yang ingin ke Wae Rebo. Beberapa wisatawan ada yang menginap di Wae Rebo Lodge, tertulis Rp 350.000,-/malam. Berhubung tema kita backpacking, jadi kita menginap di rumah penduduk saja.

Kampung Dintor berada dekat dengan garis pantai. Tampak Pulau Mules terlihat jelas dari kampung ini. Saya sangat menyukai lingkungan Kampung Dintor. Penduduknya sangat ramah. Kita dianggap seperti anak mereka sendiri selama menginap di rumah penduduk ini, dan memanggil kita dengan sebutan “naana” yang artinya anak yang disayang. Beruntungnya, kita menginap dengan penduduk yang dulunya asli orang Wae Rebo. Konon orang-orang Wae Rebo sudah tinggal di kampung-kampung sekitar dan mereka hanya ke Wae Rebo jika ada acara saja.

“Pulau Mules tampak dari Kampung Dintor”
“Waerebo Lodge”

Yang paling khas disini adalah kopi Flores. Biji kopi yang ditumbuk dengan jahe secara tradisional menjadikan kopi ini sangat enak, patut dicoba selama kamu di Flores.

Lalu, bagaimana cara mendapatkan sinyal? Ada spot-spot tertentu agar kamu bisa mendapatkan sinyal, lebih baik ditanyakan ke penduduk sekitar. Ada spot sinyal dekat jendela, ada juga yang harus ditempelkan di pohon kelapa agar bisa mendapatkan sinyal. Aneh tapi fakta!

Aghi, Ribka, dan Fariz baru tiba di Kampung Dintor jam 10 malam. Berhubung esoknya harus trekking, kita langsung beristirahat.

 

Day 2 – Desa di atas awan

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Saya bersama yang lainnya berangkat jam 5 pagi. Hanya 15 menit, kita tiba di pos pertama sebelum trekking ke Wae Rebo. Sambil meninggalkan motor kita memulai trekking. Dikelilingi hutan dengan udara yang segar, kita sangat semangat menanjaki gunung agar bisa cepat sampai di Wae Rebo. Sempat kesulitan berjalan karena tanahnya yang licin, mungkin semalam habis turun hujan.

“Pos kedua”

Sampailah kita di pos kedua, tempat di mana orang-orang mencari sinyal HP. Berhubung kita semua sedang hemat batere, kita hanya mengabadikan momen di dekat pagar. Setelah selesai mengabadikan momen, kita melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo. Panas terik mulai menyapa kita saat perjalanan menuju pos selanjutnya. Bagaimana tidak, langkah kita semakin berat karena jalan yang semakin menanjak. Kita mulai bercanda sambil berjalan agar bisa sedikit melupakan capek.

“Pos akhir”

Setelah kurang lebih 2 jam akhirnya kita sampai di pos akhir. Pos akhir ini berupa gubug dengan view Desa Wae Rebo dari kejauhan. Kita pun langsung turun agar lebih cepat sampai di desanya. Disambut dengan ramah oleh penduduk sekitar, kita dipersilakan untuk masuk ke rumah gendang untuk melakukan upacara Wae Lu’u. Konon upacara ini diadakan untuk memohon izin kepada para leluhur untuk menerima tamu. Setelah upacara selesai, kita mengabadikan momen di Desa Wae Rebo.

Selama di Wae Rebo, wisatawan mendapat kesempatan untuk melihat dan tinggal di Mbaru Niang, sebuah rumah tradisional Flores yang masih tersisa dan hanya ada di Desa Wae Rebo. Pemandangan alam perbukitan dan hutan hijau yang masih asri, dengan diselimuti kabut dan memperlihatkan 7 buah Mbaru Niang. Kamu harus membayar Rp 200.000,- jika kamu hanya mengunjungi Wae Rebo, sedangkan Rp 325.000,- jika kamu ingin menginap di desanya (per tahun 2016, kemungkinan sekarang harganya udah naik lagi). Berhubung kita hanya visit Wae Rebo, jadi kita harus membayar Rp 200.000,-.

“Keadaan di dalam Mbaru Niang”
“Berfoto bersama anak-anak Wae Rebo”
“Ribka sedang bercerita dari tulisan yang tertera di buku”

Sebenarnya kita sempat mendapat teguran dari pengelola di Desa Wae Rebo-nya sendiri. Kita memang tidak menggunakan porter (orang yang membawa barang-barang wisatawan) atau tour guide, jika kita menggunakan jasa tersebut maka harus membayar Rp 150.000,- sampai Rp 200.000,-. Walaupun kata penduduk Kampung Dintor kita tidak usah menggunakan jasa, kita tetap menerima teguran tersebut.

“Kegembiraan memainkan permainan tradisional”

Anak-anak di Wae Rebo sangat ramah dengan para wisatawan. Beberapa ada yang malu-malu saat saya mendekati mereka. Yang paling saya ingat yaitu mereka bermain permainan tradisional dengan memainkan ijuk dari atap rumah Wae Rebo, dengan kata-kata β€œmacala, macala” sambil mengaduk tanah. Entah permainan apa yang sedang mereka mainkan, tetapi terlihat sangat menyenangkan.

Satu kesalahan fatal saat mengunjungi Wae Rebo yaitu kita tidak membawa buku edukasi untuk anak-anak Wae Rebo. Mereka sangat semangat belajar dan membaca buku, terlebih lagi sekolah mereka berada di desa sebelah yang jauh dari Wae Rebo. Alhasil, kita hanya membagikan makanan berupa biskuit dan astor untuk anak-anak Wae Rebo.

“Wae Rebo saat kabut datang”

Puas berada di desa legendaris ini, setelah 2 jam kita meninggalkan Wae Rebo. Lambaian tangan anak-anak dan ucapan terima kasih dari penduduk sekitar membuat saya merasa sedih meninggalkan desa ini. Jikalau ada kesempatan lagi, saya ingin mengunjungi Wae Rebo dengan membawa buku-buku edukasi untuk anak-anak di sana.

Sesampainya di Kampung Dintor, sejenak beristirahat sambil makan siang yang telah disiapkan oleh penduduk tempat kita menginap. Mereka sangat baik menyiapkan segalanya, benar-benar sudah seperti orang tua sendiri. Mereka percaya keramahan dan kebaikan yang diberikan akan membuat wisatawan merasa nyaman berada di kampung ini.

“Berfoto bersama penduduk Kampung Dintor. Terima kasih telah bersedia menyiapkan tempat menginap.”
“Perjalanan pulang menuju Labuan Bajo”

Setelah berfoto dengan penduduk Kampung Dintor, saatnya kita kembali ke Labuan Bajo untuk melanjutkan rencana berikutnya. Terima kasih Wae Rebo, terima kasih Kampung Dintor, banyak pelajaran yang saya ambil dari perjalanan ini. πŸ™‚

 

Baca juga beberapa artikel tentang Flores :

Comments

    1. Post
      Author
  1. Pingback: Melihat Kawasan Konservasi Terumbu Karang di Labuan Bajo – Heriand.com

  2. Pingback: Pelesir Flores : Saat Mimpi Menjadi Kenyataan! - Heriand.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *