Pelesir Flores : Sail Your Dream, Part 1

Menjelajahi Flores akhirnya sudah sampai di cerita akhir. Dan ini yang paling ditunggu-tunggu dari perjalanan kita.

Nyurug di Cunca Wulang, mengunjungi private island di Labuan Bajo, trekking ke Wae Rebo, dan akhirnya salah satu mimpi gua terwujud : berlayar di lautan Flores. Bersama Aghi, Ribka, Iko, dan Rimba, sailing trip kita sebenernya terbilang unik. Kalo biasanya dari travel menyiapkan sailing trip dari Lombok menuju Labuan Bajo, kita akan melakukan sebaliknya. Sailing trip kita akan memakan waktu selama 4 hari.

Malam sebelum sailing trip, kita dikabarin kalo kapal yang akan ditumpangi tidak tersedia. Well, sebenernya bukan tidak tersedia, tapi kita membayar murah. Aghi diminta untuk menghadap kapten dan pengurus kapal agar bisa mendapatkan kapal untuk keesokan paginya… dan untungnya berhasil!

Kapal yang akan kita tumpangi berbeda dengan kapal-kapal lainnya. Kapal lain bentuknya seperti phinisi : ada tempat tidur yang nyaman di dalam kapal, rooftop untuk berjemur, dan ruang makan. Sedangkan kapal kita tidak mempunyai semuanya, hanya ala kadarnya saja.

 

Day 1 – Hati-hati!

Pagi hari. Pagi yang paling ditunggu-tunggu dari pagi sebelumnya. Kalo dulu cuma bisa liat foto-foto keindahan Flores, kali ini kita akan menikmati keindahan itu sendiri.

Setelah membeli sarapan untuk dimakan di dalam kapal, kita siap mengunjungi pulau pertama di trip ini : Pulau Padar. Kapal mulai berangkat jam 7 pagi, dan lama perjalanan ke pulau ini sekitar 3 jam. Kita sempat tidur dulu karena, well… we were having a party last night. Hahahahha.

“Perjalanan menuju Pulau Padar”

Pulau Padar mulai terlihat dengan pemandangan yang indah. Langit biru dan kilauan cahaya yang memantul dari laut akibat sinar matahari semakin membuat pulau ini menawan. Kapal pun menepi di pantai, dan kita siap melakukan trekking ke atas bukit. Gua saranin jangan melihat ke belakang saat trekking, karena pemandangannya bagus banget!

“Pulau Padar”
“Pulau Padar view dari atas”

Selama trekking harus hati-hati banget karena medan yang curam dan jalanan pasir. Ada seorang ibu-ibu yang jatuh terguling-guling sampai ke bawah, menyebabkan kepalanya hampir pecah. Disaranin juga buat ada pemandu selama trekking. So, keep your safety during the trip!

Puas dengan keindahan Pulau Padar, saatnya basah-basahan di Manta Point. Mimpi gua dari kecil akhirnya terwujud berenang bersama manta ray. Beruntungnya lagi, school of manta rays ada saat kita disana walaupun udah siang hari.

“School of manta rays”

Spot berikutnya yaitu Pulau Sembilan. Dinamakan Pulau Sembilan karena pulau ini benar-benar berbentuk seperti angka 9 jika dilihat dari atas, terbentuk dari gundukan pasir dan karang dengan stingless jellyfish (ubur-ubur tak bersengat) yang ada di tengah pulau.

“Stingless jellyfish”
“Bermain bersama stingless jellyfish”
“Pulau Sembilan”

Berbeda dengan ubur-ubur di Derawan, ubur-ubur disini mempunyai warna biru-putih transparan. Saat dipegang tentakelnya sebenarnya bisa menyebabkan gatal, tetapi bisa dicuci hanya dengan air laut. My favorite spot!

Dan spot terakhir untuk hari ini : kita harus memilih antara Pulau Kelor atau Pulau Kanawa. Masuk Pulau Kelor gratis, sedangkan untuk Pulau Kanawa harus membayar Rp 50.000,-/orang karena termasuk pulau resort. Berhubung katanya ada dugong terdampar di Pulau Kanawa, kita akan menepi di dermaga Pulau Kanawa sambil mencari info tentang dugong tapi ga masuk ke resort-nya, biar hemat gitu. Sayangnya dugong tersebut sudah mati, dan kita langsung menuju Pulau Kelor buat sunset-an.

“Pulau Kanawa”

Pulau Kelor cukup ramai oleh wisatawan mancanegara. Yang paling khas di pulau ini yaitu trekking ke atas bukit dan berfoto di sana. Ada gunung di dekat Pulau Kelor sehingga menjadi lebih Instagram-able.

“Pulau Kelor”
“Sunset di Pulau Kelor 🙂 “

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00, dan kita bergegas pulang ke Labuan Bajo untuk beristirahat dan bersiap-siap untuk keesokan harinya…

 

Day 2 – Komodo Teman Baikku

Hari yang sangat exciting karena kita akan bertemu komodo, sekaligus sedih karena kita akan meninggalkan Labuan Bajo. Well, hari ini memang kita akan menuju Lombok sembari mengunjungi pulau-pulau di sekitarnya. Setelah 10 hari berada di Flores, tidak ada sama sekali kesan buruk di sini. Gua akan kangen suasana Labuan Bajo yang selalu ramai oleh turis mancanegara, dan juga akan kangen menjelajahi Flores lagi beserta isinya. Thanks and good bye Labuan Bajo!

“Sampai bertemu lagi, Fariz dan Pak Ilyas!”

Kapal berangkat jam 9 pagi. Kini awak kapal berbeda dari yang sebelumnya. Ada 3 awak kapal dan 1 kapten, masing-masing memiliki background yang berbeda. Kita memanggil kapten sebagai ‘Cep’ dan dia yang paling banyak pengalaman selama berlayar.

Pulau yang akan kita kunjungi yaitu Pulau Rinca dan memakan waktu sekitar 3 jam dari Labuan Bajo. Dermaga pulau ini cukup ramai oleh wisatawan. Dari gapura Pulau Rinca menuju rumah pengelola Pulau Rinca, kita ditemani oleh ranger yang siap mengantarkan kita kalau-kalau nanti ada binatang yang menyerang.

Saat di rumah pengelola Pulau Rinca, kita bernegosiasi harga tiket. Awalnya kita dikenakan Rp 50.000,-/orang. Tetapi dengan kehebatan negosiasi Aghi dan Ribka, kita cukup membayar Rp 30.000,-/orang. Ajaib!

“Gapura Pulau Rinca”
“Tulang-belulang dari mangsa komodo”
“Berfoto dengan komodo”

Komodo merupakan reptil karnivora yang telah jutaan tahun hidup di dunia sejak masa Tertiarum Awal, serta salah satu 7 Wonders of Nature in The World. Selain Pulau Komodo dan Pulau Rinca, komodo juga bisa ditemukan di Pulau Nusa Kode dan Gili Motang, Flores. Pergerakan komodo yang ukurannya kecil lebih lincah dibandingkan ukuran besar.

“Komodo ukuran besar sedang berteduh”
“Komodo ukuran kecil yang lincah”

Komodo di Pulau Rinca terbilang ganas dibandingkan di Pulau Komodo sendiri. Konon air liur komodo mengandung 80 bakteri dan salah satunya herpes. Kalo di berita-berita tentang wisatawan digigit komodo sebenarnya kebanyakan dari Pulau Rinca. Untuk mencegah para wisatawan diserang oleh komodo dan binatang buas lain, maka diwajibkan untuk mempunyai ranger dalam setiap grup. Satu grup terdiri dari maksimal 7 orang, tidak boleh lebih dari itu.

Selama kita berada di Pulau Rinca, gua merasa waswas dan sangat berhati-hati akan langkah kaki gua. Beberapa kali kita melihat sarang komodo, bentuknya seperti lubang di dalam tanah. Komodo di siang hari hanya tidur atau berteduh, sedangkan mereka mencari mangsa pada malam hari. Untunglah ranger bener-bener menjaga kita (even kita membayar tiket paling murah). Selesai dari kandang komodo, kita sedikit trekking ke atas selama 5 menit untuk melihat pemandangan pulau dari atas bukit.

“Perjalanan trekking ke atas bukit”

Jam sudah menunjukkan pukul 14.30, dan kita bergegas ke Pulau Komodo. Perjalanan ke Pulau Komodo memakan waktu sekitar 1,5 jam. Sayangnya cuaca kurang mendukung. Sesampainya di Pulau Komodo, cuaca mendung dan kawasan wisata Pulau Komodo akan segera ditutup. Padahal banyak spot yang bisa kita kunjungi selama di pulau ini.

“Jalanan di Pulau Komodo”
“The squad”

Pulau Komodo sendiri lebih besar daripada Pulau Rinca. Dengan hanya membayar Rp 10.000,-/orang karena udah kesorean, untunglah kita menemukan komodo di atas bukit yang sedang tiduran. Komodo yang kita temui ukurannya lebih besar dibandingkan di Pulau Rinca.

“Komodo yang sedang berteduh di Pulau Komodo”

Hari pun udah semakin gelap. Sempat ditawari ke Pulau Kalong untuk melihat kalong-kalong yang sedang berkeliaran di pulau itu, tetapi waktu kurang mendukung. In the end, kapal kita stay di tengah laut dan dekat Pulau Komodo. Sambil menikmati angin laut malam, kapten beserta awak kapal bercerita tentang pengalaman mereka selama berlayar, diiringi lagu reggae yang diputar dari handphone…

 

Baca juga beberapa artikel tentang Flores :

Comments

  1. Pingback: Wae Rebo : Backpacking Menuju Desa Bahari Flores - Heriand.com

  2. Pingback: Pelesir Flores : Saat Mimpi Menjadi Kenyataan! - Heriand.com

  3. Pingback: Melihat Kawasan Konservasi Terumbu Karang di Labuan Bajo - Heriand.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *